BOVEN DIGUL— Langkah-langkah perempuan-perempuan beriman dari Merauke menjelma menjadi doa yang berjalan. Di atas tanah yang tertanam rindu dan sungai yang mengalirkan harapan, Persekutuan Wanita (PERWATA) GPI Papua dari Jemaat Petra Muli Merauke menapaki perjalanan panjang menuju Jemaat Betel Tanah Merah, Boven Digul. Bukan jarak yang mereka ukur, melainkan kedalaman kasih yang hendak mereka bagikan. Tiga hari, 19 hingga 21 Juni 2026, menjadi saksis bahwa iman tak pernah kehilangan jalannya selama ada hati yang bersedia melintasi medan dan tangan yang terbuka untuk bersaudara.
Rombongan PERWATA Petra Muli hadir, bukan sebagai tamu, tetapi sebagai keluarga yang lama berpisah. Sambutan tarian khas Boven Digul menari di udara, menyambut setiap langkah dengan getar sukacita. Di tengah iringan gerak dan syukur, hadir Ketua Majelis Jemaat Pdt. M. Belwawin, Ketua PERWATA Ibu Meggy Raranta, dan Ketua Tim Kerja Koinonia 2026 Pdt. Osin R.M. Pakey. Dari sisi tanah merah, Ibu Yanuaria Pale dan Ibu Ani Untayana/Manuhuwa sebagai Ketua Kompel PERWATA Klasis GPI Papua Boven Digul menyambut dengan kehangatan yang mencairkan segala batas geografis.
Malam pertama menjadi jendela perkenalan, tempat nama-nama saling diukir dalam ingatan. Namun fajar keesokan harinya membawa misi yang lebih dalam. Para ibu-ibu PERWATA Petra Muli mengunjungi para lansia dan ibu-ibu PERWATA Betel Tanah Merah, menyerahkan bantuan diakonia sebagai wujud kasih yang berbicara lebih keras dari seribu kata. Di balik senyum penerima yang merekah, ada kesaksian bisu bahwa koinonia bukanlah teori, melainkan tindakan yang mengalir dari hati yang terpanggil.
Sinar pagi semakin terang saat Pdt. Andre Serhalawan menyampaikan firman dalam bingkai tema “Sinergi Kepemimpinan Perempuan Gereja dan UMKM Bagi PERWATA GPI Papua”. Perempuan-perempuan gereja diajak tidak hanya menjadi pendengar setia, tetapi juga pelaku perubahan. Iman yang melayani dan ekonomi yang memberdayakan berjalan bergandengan, menciptakan denyut kehidupan yang lebih kuat dan mandiri. Momentum ini menegaskan bahwa dari tangan-tangan yang lembut, bisa lahir kekuatan yang mengguncang kemiskinan dan ketergantungan.
Lalu hadirlah Ibu Erary dari Jemaat Petra Muli dengan peragaannya yang memukau. Dari kain perca, manik-manik, dan barang-barang yang nyaris terlupakan, ia menciptakan sirkam dan bross yang cantik dan bernilai jual. Para ibu-ibu Betel Tanah Merah menyimak dengan mata berbinar bukan sekadar melihat keterampilan, tetapi menemukan harapan bahwa dari rumah, dari dapur, dari sela-sela kesibukan, mereka bisa menciptakan karya yang menghidupi. Kreativitas yang lahir dari kesederhanaan menjadi percikan api bagi semangat ekonomi umat.
Sore hari, hening berganti riuh. Permainan-permainan sederhana mengundang tawa yang membebat jiwa. Sekat antara Merauke dan Boven Digul runtuh oleh gelak dan sorak sorai. Mereka berlomba, bekerja sama, dan tertawa seperti kanak-kanak yang tak mengenal perbedaan. Malam tiba, dan pujian-pujian naik mengudara. Suara-suara yang berpadu dalam syukur menggema di ruang ibadah, menjadi mahkota bagi setiap pertemuan dan pelukan yang telah terjadi.
Ibu Yanuaria Pale, dengan mata berembun, menegaskan: “Kegiatan koinonia ini sangat positif dan membangun kebersamaan di antara PERWATA GPI Papua.” Baginya, ini bukan sekadar kunjungan, tetapi lahirnya kembali makna persaudaraan sejati. Sementara Ibu Meggy Raranta menyatakan dengan tegas: “Keberhasilan dan kesuksesan kegiatan Koinonia kali ini tidak lepas dari kerja keras tim yang selalu bahu-membahu untuk mensukseskan kegiatan ini.” Baginya, setiap langkah adalah syukur, setiap peluh adalah pengorbanan yang diberkati.
Harapan membentang luas di ujung kegiatan. Koinonia ini diharapkan menjadi pintu yang terus terbuka bagi kerjasama lintas jemaat, lintas klasis, hingga ke tataran sinode. Bukan hanya untuk perempuan gereja, tetapi untuk seluruh umat yang haus akan kebersamaan yang membangun. Dampaknya tak berhenti pada rohani, tetapi merambah pada ekonomi dan sosial yang lebih adil dan berdaya.
Sebelum langkah pamit diatur, Ketua Tim Kerja Pdt. Osin R.M. Pakey menyampaikan undangan yang menggema di hati: Ia mengundang secara terbuka kepada PERWATA Jemaat GPI Papua Betel Tanah Merah untuk melakukan kunjungan balik ke Jemaat GPI Papua Petra Muli Merauke, agar keakraban dan saling sharing informasi pelayanan bisa lebih dipererat. Sebuah tawaran yang bukan sekadar formalitas, melainkan janji untuk terus berjumpa dan bertumbuh bersama.
Dari Merauke yang berhembus angin selatan, ke Boven Digul yang merah tanahnya semua adalah satu dalam panggilan. Perempuan-perempuan GPI Papua telah membuktikan bahwa jarak hanyalah angka, medan hanyalah cerita, dan iman adalah keberanian untuk terus melangkah. Mereka pulang dengan tangan kosong tetapi hati penuh, dengan kenangan yang tak lekang, dan dengan keyakinan bahwa kebersamaan adalah kekuatan yang mengubah dunia dimulai dari gereja, dari perempuan, dari kasih yang tak pernah padam.