
Kegiatan yang berlangsung di Jemaat GPI Papua Imanuel Bade ini diikuti oleh tujuh jemaat yang tersebar di seluruh wilayah Klasis GPI Papua Muara Digul. Mereka hadir dengan semangat belajar yang tinggi, menyadari bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan pintu masuk menuju kemandirian ekonomi dan kesehatan keluarga.
Pelatihan menghadirkan dua narasumber ahli dari Politeknik Pertanian Yasanto Merauke, yakni Ibu Maya Novi Pelamonia dan Ibu Puji Susanty Artaningsih. Keduanya membekali peserta dengan pengetahuan teknis mulai dari pemilihan bibit unggul, pembuatan pakan fermentasi, manajemen kandang, hingga pengelolaan limbah ternak yang terintegrasi dengan sistem pertanian organik.
Program ini dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan mendesak akan sumber protein hewani yang terjangkau dan berkelanjutan bagi masyarakat di Distrik Bade dan sekitarnya. Melalui kombinasi peternakan ayam petelur dan pertanian terpadu, peserta tidak hanya diajarkan cara menghasilkan telur dan sayuran sehat, tetapi juga bagaimana menjadikannya sebagai usaha produktif yang mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga.

Ketua Klasis GPI Papua Muara Digul, Pdt. Viktor Tunay, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pelatihan ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju kemandirian jemaat.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada YDML, Badan Pekerja Eksekutif GPI Papua, serta Ibu Maya dan Ibu Puji yang telah bersedia datang jauh-jauh, meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk melatih serta memberi pencerahan kepada kami. Ilmu yang diberikan hari ini sangat berharga. Kami berharap pendampingan dan pembinaan ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut agar kami benar-benar mampu mengelola usaha ini secara mandiri dan merasakan dampak ekonominya,” ujar Pdt. Viktor Tunay dengan penuh haru.

“Kami ingin membuktikan bahwa dengan kerja keras dan gotong royong, masyarakat di pedalaman Papua juga mampu menciptakan ketahanan pangan dan kesejahteraan. Ini adalah wujud nyata dari kemandirian yang selama ini kami rindukan,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu narasumber, Ibu Maya Novi Pelamonia, mengungkapkan kebanggaannya terhadap antusiasme para peserta. Menurutnya, semangat belajar yang ditunjukkan oleh ketujuh jemaat sangat luar biasa dan menjadi modal utama keberhasilan program ini ke depan.
“Mereka sangat aktif bertanya dan ingin mendalami setiap tahapan. Ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar serius ingin berubah. Kami dari Politeknik Pertanian Yasanto akan terus memantau dan memberikan pendampingan teknis secara berkala,” ujarnya.
YDML selaku penggagas program menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang yayasan dalam memberdayakan komunitas berbasis gereja di wilayah Papua. Ke depan, yayasan berencana memperluas program serupa ke wilayah-wilayah lain yang masih tertinggal, dengan pendekatan yang berbasis kebutuhan lokal dan kearifan setempat.
“Kami percaya bahwa pemberdayaan ekonomi yang dimulai dari akar rumput adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Ketika gereja dan masyarakat bergerak bersama, maka tidak ada tantangan yang terlalu berat untuk dihadapi,” demikian pernyataan perwakilan YDML di sela-sela kegiatan.

Pelatihan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara yayasan sosial, institusi pendidikan, dan komunitas gereja mampu melahirkan solusi inovatif yang berdampak luas. Langkah kecil hari ini adalah fondasi bagi kemandirian besar di masa depan. Bukan sekadar soal telur dan sayuran, tetapi soal martabat, kemandirian, dan masa depan yang lebih cerah bagi generasi Papua.













