banner 728x250
Papua  

Sumarni Kaize Ajarkan Prinsip “Naik dan Sukses Bersama” kepada Perempuan Pengelola Mete Soa: Dari Ibu Rumah Tangga Kini Dampingi 30 UMKM Papua

banner 120x600

Senayu – Semangat pemberdayaan perempuan Papua berkobar dalam pelatihan bertajuk “Women’s Leadership Training” yang merupakan bagian dari program “From Forest to Market: Advancing Women-led Groups and Social Forestry in Indonesia”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 6-7 Mei 2026, ini dihadiri oleh 10 anggota Kelompok Jambujob, sebuah kelompok usaha perempuan pengelola Kacang Mete Soa.

Pelatihan ini menghadirkan dua fasilitator inspiratif, Sumarni Kaize dan Beatrix Gebze, yang membekali para peserta dengan keterampilan kepemimpinan, komunikasi, dan kepekaan melihat peluang usaha dari kekayaan alam sekitar.

Pada sesi pertama, Sumarni Kaize membagikan kisah perjalanannya membangun usaha. Dengan penuh semangat, ia bercerita tentang titik balik hidupnya dari seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak yang mencoba mengolah bahan-bahan sederhana di sekitarnya menjadi sebuah produk bernilai ekonomi.

Sumarni mengisahkan berbagai tantangan dan kegagalan yang menerpanya, namun ia menekankan sebuah pesan kunci yang membakar semangat para peserta.

Baca Juga :  GPI Papua Siap Jadi Ujung Tombak Perjuangan, Dukung Penuh Deklarasi PGI Tolak PSN di Tanah Papua

“Perempuan Papua itu harus kuat dan tangguh! Jangan gampang menyerah!” tegas Sumarni.

Ketangguhan itulah yang kini mengantarkannya tidak hanya sukses mengembangkan produk, tetapi juga mampu membentuk dan mendampingi lebih dari 30 kelompok usaha di Papua dalam komunitas UMKM Sinai untuk berkembang dan mengakses permodalan. Sumarni pun membagikan prinsip hidup yang ia pegang teguh: “Kita boleh jatuh dan gagal berulang kali, tetapi kita harus bangkit dengan menggandeng orang lain, supaya kita naik dan sukses bersama.”

Ia berharap, kelompok perempuan pengelola kacang mete Soa dapat lebih jeli melihat potensi sumber daya alam di sekitar mereka. Lebih dari itu, ia mendorong mereka untuk mampu menggerakkan dan memengaruhi mama-mama lain di Kampung Soa agar bersama-sama berdaya dan menciptakan peluang ekonomi baru. Diskusi pun berkembang dengan munculnya ide-ide produk potensial seperti tepung pisang bebas gluten sebagai pangan alternatif sehat dan minyak kemiri.

Baca Juga :  Satgas Pamtas Yonif 726/Tml Pastikan Kondisi Perbatasan RI-PNG Aman dan Kondusif

Sementara itu, Beatrix Gebze memandu sesi yang tak kalah interaktif. Ia membekali kelompok dengan keterampilan fundamental, yakni public speaking, pengelolaan kelompok, manajemen konflik, dan menanamkan peran perempuan sebagai agen perubahan di kampung.

 

Suasana belajar menjadi hidup melalui beragam aktivitas yang membuka ruang bagi semua anggota untuk tampil percaya diri. Setiap peserta mendapat kesempatan memperkenalkan diri dan menyampaikan pendapat di depan forum, meski dengan bahasa yang masih sederhana.

Untuk memperdalam pemahaman tentang komunikasi dan konflik, Beatrix membagi peserta ke dalam tiga kelompok untuk bermain peran. Mereka mengeksplorasi tiga jenis komunikasi: agresif, pasif, dan asertif/efektif, serta menganalisis dampaknya terhadap dinamika dan konflik kelompok.

“Setiap perempuan harus memahami cara komunikasi yang efektif untuk menghindari konflik, bahkan mampu menjadi penengah saat konflik muncul,” demikian intisari materi yang disampaikan Beatrix.

Baca Juga :  DPD RI Perwakilan Propinsi Papua Selatan Turun Lapangan: Briket Tempurung Kelapa dan Ayam Petelur YDML Jadi Andalan Energi Alternatif Papua Selatan

Pelatihan ini menjadi bukti nyata bahwa investasi pada kepemimpinan perempuan di akar rumput adalah kunci untuk membuka potensi ekonomi berbasis hutan dan alam sekitar secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat solidaritas antarperempuan Papua untuk maju bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *