
Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri ahli dari Politeknik Pertanian Yasanto Merauke, yaitu Ibu Maya Novi Pelamonia yang mengampu bidang peternakan dan Ibu Puji Susanti Artaningsih yang mengampu bidang pertanian. Mereka membekali peserta dengan ilmu terapan yang siap diimplementasikan langsung di pekarangan gereja maupun lahan jemaat masing-masing.
Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang pengelolaan ayam petelur, mulai dari masa Doc (Day Old Chick) atau pertumbuhan hingga memasuki masa produksi. Ibu Maya Novi menegaskan bahwa keberhasilan beternak ayam petelur tidak bisa dicapai dengan setengah-setengah.
“Para anggota kelompok harus serius memperhatikan perkembangan ayam. Mulai dari pakan, minum, hingga pemberian vitamin secara rutin. Jika perawatan dilakukan dengan disiplin, maka saat masa produksi tiba, telur yang dihasilkan akan maksimal. Jangan pernah mengabaikan kebersihan kandang karena sanitasi yang buruk menjadi biang keladi munculnya bakteri dan penyakit,” tegas Ibu Maya dengan lugas di hadapan peserta.
Ia juga mengingatkan bahwa peternakan bukan sekadar hobi, melainkan usaha produktif yang membutuhkan komitmen dan kerja keras. Dengan pengelolaan yang baik, ayam petelur mampu menjadi sumber protein hewani sekaligus penopang ekonomi keluarga yang berkelanjutan.
Di sisi lain, Ibu Puji Susanti memperkenalkan konsep pertanian terpadu sebagai solusi cerdas bagi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pertanian terpadu adalah sistem yang menggabungkan berbagai aktivitas pertanian—tanaman pangan, peternakan, dan pengolahan limbah—dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Ia menambahkan bahwa pertanian terpadu bukan sekadar teknik, tetapi juga pola pikir. Masyarakat harus mulai melihat bahwa setiap limbah memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan benar.
Pelatihan ini tidak berhenti pada teori. Sebagai bentuk komitmen nyata, setiap peserta pulang dengan membawa bibit sayuran, tomat, cabai, dan EM-4 (Effective Microorganisms) sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Bekal ini diharapkan menjadi titik awal implementasi ilmu yang telah mereka terima di jemaat masing-masing.
Pdt. Andre Serhalawan, selaku Direktur YDML dan Badan Pekerja Eksekutif GPI Papua, menyampaikan bahwa pelatihan ini adalah langkah awal dari program pendampingan jangka panjang.

Ia juga menekankan bahwa pemanfaatan lahan pekarangan gereja dan jemaat merupakan strategi cerdas untuk menciptakan ketahanan pangan berbasis komunitas. Dengan lahan yang ada, jemaat tidak hanya bergantung pada bantuan dari luar, tetapi mampu memproduksi kebutuhan pangan sendiri.
Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi pelatihan. Mereka aktif bertanya dan berdiskusi, menunjukkan keseriusan untuk menerapkan ilmu yang didapat. Semangat gotong royong dan kebersamaan terlihat jelas saat mereka saling berbagi pengalaman dan harapan.
Salah satu peserta mengungkapkan rasa syukurnya atas pelatihan ini. “Kami sangat terbantu dengan ilmu yang diberikan. Selama ini kami hanya bertani secara tradisional. Sekarang kami tahu cara mengelola ayam petelur dan memanfaatkan limbah ternak untuk menyuburkan tanaman. Semoga program ini terus berlanjut,” katanya dengan penuh haru.
Pelatihan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara yayasan sosial, perguruan tinggi, dan komunitas gereja mampu melahirkan solusi inovatif bagi masalah pangan dan ekonomi di pedalaman Papua. Langkah kecil di Muting hari ini adalah fondasi bagi kemandirian besar di masa depan.
YDML dan GPI Papua Muting Merauke berkomitmen untuk terus bergerak. Bukan sekadar memberi ikan, tetapi mengajarkan cara memancing. Bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi pendampingan berkelanjutan. Karena mereka percaya, kemandirian pangan adalah hak setiap masyarakat, dan itu harus diperjuangkan bersama.













