banner 728x250
Papua  

Okto Wikom: “Kami Sadar Pengetahuan Kami Minim, Tapi Kami Tidak Menyerah”

Kepala Kampung Soa-Senayu: "Kami Belajar Sendiri Selama Bertahun-Tahun, Kini Waktunya Bertransformasi"

banner 120x600

Poros Informasi – Kampung Soa-Senayu, 22 April 2026. Ketergantungan bukanlah jalan keluar. Prinsip itulah yang selama ini dipegang teguh oleh Okto Wikom, Kepala Kampung Soa-Senayu, di tengah keterbatasan akses pengetahuan dan pendampingan teknis bagi warganya. Namun, di Hari Bumi yang penuh makna pada 22 April 2026, ia menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus testimoni menggugah kepada Yayasan Dahetok Milah Lestari (YDML) yang telah menggelar pelatihan pengelolaan minyak sereh wangi di kampungnya.

“Kami sadar bahwa pencarian dan pembelajaran mandiri itu masih sangat jauh dari yang diharapkan,” ujar Okto Wikom dengan tegas di hadapan para peserta pelatihan.

Saat ini, terdapat dua kelompok sereh wangi yang aktif di Kampung Soa-Senayu dengan total 60 petani. Angka ini bukan sekadar statistik. Dari 60 orang tersebut, 40 di antaranya adalah mama-mama—para ibu yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga sekaligus penggerak utama roda perekonomian kampung.

Okto Wikom menjelaskan bahwa bantuan alat penyulingan berupa ketel yang saat ini digunakan merupakan program dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Merauke melalui Anggaran OTSUS tahun 2022. Namun, setelah alat tersebut diserahkan, tidak ada pendampingan berkelanjutan.

Baca Juga :  Dari Rp1,7 T ke Rp700 M, Apolo Safanpo Buka Fakta Tekanan Anggaran Papua Selatan

“Setelah penyerahan mesin produksi, kami berupaya sendiri untuk mencari tahu cara pengelolaan, cara tanam yang baik, cara panen, hingga cara penyulingan yang sesuai untuk minyak sereh wangi,” tandasnya.

Okto tidak menutupi kenyataan pahit. Upaya otodidak yang dilakukan kelompok sereh wangi selama bertahun-tahun itu hasilnya masih jauh dari standar yang diharapkan. Pengetahuan yang terbatas dan minimnya akses terhadap pelatihan profesional membuat potensi besar komoditas sereh wangi belum tergarap secara maksimal.

Okto Wikom tidak menyembunyikan rasa syukur dan terima kasihnya. Ia secara terbuka mengapresiasi Pdt. Andre Serhalawan selaku Direktur YDML sekaligus BPE GPI Papua yang telah menghadirkan Pak Nyoman Artha seorang pakar agribisnis dari Bali secara langsung untuk mendampingi masyarakat Kampung Soa.

“Beliau datang membantu kami masyarakat di Kampung Soa, terkhususnya kelompok Sereh Wangi dan kelompok Kacang Mete,” ujar Okto dengan penuh haru.

Apa yang diperoleh masyarakat dalam pelatihan ini? Bukan sekadar teori. Okto merincikan secara jelas:

  • Pengetahuan tentang jenis sereh yang tepat untuk ditanam di lahan Kampung Soa.
  • Cara perawatan tanaman yang baik hingga waktu panen yang optimal.
  • Praktik langsung proses penyulingan yang dibimbing oleh ahlinya.
  • Koreksi teknis terhadap mesin penyulingan yang selama ini digunakan, agar hasil minyak sereh wangi bisa lebih maksimal.
Baca Juga :  Pelatihan SOP Pengelolaan Produk Kacang Mete di Kampung Soa: Langkah Nyata Mama-Mama UMKM Menuju Produk Berstandar

“Setelah itu, Pak Nyoman juga mengajarkan secara langsung proses penyulingan, hingga koreksian beliau terkait dengan mesin yang harus kami benahi agar hasil penyulingan minyak sereh wangi bisa lebih maksimal,” tegas Okto.

Okto Wikom tidak sekadar berterima kasih. Ia memberi pernyataan tegas yang menjadi catatan penting bagi semua pihak

“Tentu jika tanpa bantuan YDML lewat program pengembangan ekonomi masyarakat adat lewat pendanaan dari Yayasan Econusa, maka kegiatan pelatihan ini tidak akan pernah terwujud. Kami kelompok pasti ada dalam pemahaman yang terbatas dan minim,” tutup Okto Wikom dengan nada penuh keyakinan.

Okto Wikom memberi teladan nyata bahwa seorang pemimpin kampung harus jujur melihat keterbatasan, berani mengakui kebutuhan belajar, dan terus bergerak mencari solusi. Bukan sekadar menunggu bantuan turun dari langit, tetapi membuka diri terhadap kolaborasi yang membangun.

Dari alat yang sempat menganggur tanpa pengetahuan pengelolaan, kini mesin penyulingan sereh wangi di Kampung Soa-Senayu mulai berfungsi optimal. Dari petani yang ragu-ragu akan masa depan komoditas mereka, kini lahir keyakinan baru: ekonomi mandiri dimulai dari pengetahuan yang benar, bukan sekadar bantuan fisik semata.

Baca Juga :  Bocah 8 Tahun dari Merauke Borong Medali di Kejuaraan Renang Makassar, Tapi Dukungan Pemerintah Masih Minim

Kampung Soa-Senayu tidak lagi menunggu. Mereka bergerak. Dan mereka membuktikan bahwa dengan kolaborasi yang tepat—antara pemerintah, yayasan, pendamping ahli, dan semangat masyarakat—kemandirian ekonomi Orang Asli Papua bukanlah mimpi di siang bolong. Itu adalah target yang harus dicapai. Sekarang.

#Poros Informasi – Membangun Papua dari Kampung

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *