banner 728x250
Papua  

Harumkan Nama Merauke, Queen Felicia Sabet Empat Medali di KRAPSI Medan 2026

banner 120x600

Medan – Air kolam Renang Selayang di Medan pada 10-12 April 2026 lalu tak hanya membasahi tubuh para atlet, tetapi juga membasahi pipi sang juara. Di tengah gemuruh sorak penonton yang memadati tribun, seorang gadis kecil bernama Queen Felicia Christiani harus menahan haru yang hampir meledak dari dadanya. Atlet renang muda asal Merauke, Papua Selatan yang baru menginjak usia 8 tahun itu berhasil mempersembahkan empat medali sekaligus dalam Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Seluruh Indonesia (KRAPSI) 2026. Namun di balik gemilangnya medali, tersimpan perjuangan yang mengharu biru dan penuh air mata.

Tampil di kategori LCM-Group 5 Putri, Queen, begitu ia akrab disapa hanya diperbolehkan mengikuti maksimal lima nomor pertandingan. Namun dengan tekad baja dan hati yang membara membawa nama kampung halaman, ia menyapu nyaris seluruh nomor yang diikutinya. Bukan sekadar ikut serta, ia naik podium berkali-kali meskipun hatinya mungkin berteriak lebih keras untuk warna emas. Berikut rincian medali yang diraih Queen Felicia:

– Medali Perak – Nomor 50m Gaya Punggung Putri (catatan waktu: 50,89 detik)

– Medali Perunggu – Nomor 50m Gaya Kupu-Kupu Putri (catatan waktu: 49,83 detik)

Baca Juga :  Masyarakat Adat Papua Ajukan Keberatan Atas Keputusan Menteri Kehutanan Merubah Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan

– Medali Perunggu – Nomor 100m Gaya Punggung Putri (catatan waktu: 1 menit 50,02 detik)

– Medali Perunggu – Nomor 100m Gaya Kupu-Kupu Putri (catatan waktu: 1 menit 59,44 detik)

Empat medali menggantung di leher mungilnya. Tapi lihatlah matanya yang sembap. Bukan karena bangga semata, melainkan karena ia tahu persis apa yang telah ia korbankan. Berjam-jam berlatih di kolam yang jauh dari standar nasional di Merauke, jauh dari pelatih handal, jauh dari fasilitas memadai. Ia berlatih dengan kolam yang kadang keruh, dengan air yang dingin menusuk tulang, dan dengan tubuh mungil yang sering gemetar kelelahan sepulang sekolah. Orang tuanya hanya bisa menangis setiap malam melihat putri kecil mereka tidur dengan lengan pegal dan kaki kram.

“Queen menangis di kamar ganti setelah perlombaan,” ungkap Dewita Marbun, manajer tim yang suaranya bergetar saat ditemui usai acara penutupan. “Dia bilang, ‘Ma, aku ingin emas untuk Merauke, tapi kenapa badankku terasa begitu berat?’ Saya hanya bisa memeluknya. Anak seusianya seharusnya bermain boneka, bukan menahan tangis karena gagal menjadi yang tercepat.”

Baca Juga :  Solidaritas Nyata dari Timur: GPI Papua Menyerahkan Bantuan Diakonia untuk Korban Bencana di Tiga Provinsi Sumatera

Dewita juga menambahkan bahwa keterbatasan fasilitas latihan di Merauke menjadi kendala terbesar. “Queen harus berbagi waktu dengan puluhan anak lain di kolam yang sama. Tidak ada pelatih khusus untuk gaya punggung atau kupu-kupu. Semua ia pelajari dari video YouTube dan instruksi jarak jauh. Dan lihatlah ia tetap membawa pulang empat medali. Ini bukan sekadar prestasi. Ini adalah keajaiban.”

Di sela-sela wawancara, Queen yang duduk diam di pangkuan ibunya sempat berbisik lirih, “Aku ingin pulang dan berenang lagi. Besok aku latihan lebih keras. Aku janji.” Tegas harus dikatakan: Pemerintah daerah dan pusat jangan lagi tutup mata. Seorang anak usia 8 tahun dari ujung timur Indonesia harus bertarung dengan jiwa dan raga hanya untuk membawa nama Merauke ke podium nasional. Bayangkan jika ia memiliki kolam berstandar internasional, pelatih profesional, dan program pembinaan dini. Bukan tidak mungkin Queen Felicia kecil ini akan menjadi nama yang mengguncang Asia bahkan dunia.

Keberhasilan Queen di KRAPSI Medan 2026 bukan sekadar kebanggaan biasa. Ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Ini adalah bukti bahwa talenta luar biasa lahir dari tanah yang kerap dilupakan. Ini adalah air mata perjuangan yang tak bisa lagi dihapus dengan tepuk tangan semata.

Baca Juga :  Bocah 8 Tahun dari Merauke Borong Medali di Kejuaraan Renang Makassar, Tapi Dukungan Pemerintah Masih Minim

Selamat, Queen Felicia Christiani. Namamu kini terukir di hati setiap putra-putri Merauke. Tapi ingatlah, kami tidak hanya bangga padamu. Kami juga berutang padamu. Berutang fasilitas, perhatian, dan masa depan yang lebih layak untuk renang Indonesia dari timur.

Merauke menangis haru. Medan bersaksi. Indonesia seharusnya malu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *