MAKASSAR – Seorang anak berusia delapan tahun asal Merauke, Papua, menjadi sorotan dalam kejuaraan renang Angin Mammiri Championship 3 di Makassar, awal bulan ini. Queen Felicia Cristiani berhasil membawa pulang tiga medali emas dan tiga perunggu dari delapan nomor yang diikutinya.
Atlet muda dari Kali Maro Swimming Club itu bahkan dinobatkan sebagai Peserta Terbaik dalam kejuaraan yang diikuti banyak perenang muda dari Indonesia Timur tersebut. Prestasinya ini tentu membanggakan keluarga dan klubnya.
“Ini bukti kerja keras dan disiplinnya. Semoga bisa menginspirasi anak-anak lain,” kata salah satu pelatihnya.
Namun, di balik prestasi gemilang itu, ternyata perjuangan Queen tidak mudah. Untuk bisa turun di kejuaraan di Makassar, biaya seluruhnya ditanggung oleh keluarganya dan klub, tanpa ada bantuan dana atau fasilitas dari pemerintah.
“Kami berusaha sendiri. Dukungan untuk atlet muda seperti Queen dari pemerintah daerah masih sangat kurang,” keluh orang tua Queen.
Kejuaraan Anging Mammiri sendiri dikenal sebagai ajang pencarian bibit renang terbesar di kawasan Indonesia Timur. Banyak yang khawatir, tanpa dukungan yang memadai, potensi besar atlet-atlet muda seperti Queen dari daerah terpencil bisa terhambat.
“Kalau tidak didukung, ya sayang sekali. Padahal mereka sudah menunjukkan bisa bersaing,” tambah seorang pengamat olahraga.
Kisah Queen menyadarkan kita bahwa masih banyak talenta muda di pelosok negeri yang berprestasi, tetapi berjuang sendirian. Dukungan pemerintah dinilai sangat penting agar potensi mereka tidak sia-sia.



