
Melalui Plenary Session 3 bertajuk “Kepemimpinan Masyarakat Adat”, para pembicara sepakat bahwa pembangunan di Papua tidak bisa dilepaskan dari masyarakat adat selaku pemilik wilayah, penjaga sumber daya alam, sekaligus aktor utama penggerak kehidupan sosial hingga politik.
Diskusi ini menghadirkan Anggota DPR Papua Tengah Stella T.U. Misiro, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Papua Pegunungan Elai Giban, Tokoh Perempuan Adat sekaligus Kepala Distrik Merdey Yustina Ogoney, serta Wakil Rektor IV Universitas Papua (UNIPA) Yusuf Sawaki.
Dalam pemaparannya, Stella T.U. Misiro dan Yustina Ogoney menyoroti urgensi keterwakilan perempuan adat dan generasi muda. Stella menegaskan komitmennya dalam menghadirkan kebijakan responsif, seperti Perda Provinsi Nomor 2 Tahun 2026 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak di Papua Tengah. Senada dengan itu, Yustina menekankan bahwa perempuan adat memiliki ikatan langsung dengan wilayah ulayat dan roda ekonomi komunitas, salah satunya lewat inisiatif pembangunan pondok-pondok usaha pinang warga.
Di sektor lingkungan dan ekonomi, Elai Giban memaparkan tantangan perlindungan kawasan hutan dari dampak El Niño serta pentingnya kerja sama antardaerah untuk memperkuat ketahanan pangan komoditas lokal.
Sementara itu, dari perspektif akademik, Yusuf Sawaki mengingatkan pemerintah dan pihak swasta bahwa pengakuan terhadap masyarakat adat tidak cukup hanya melalui pendekatan administratif. Pembangunan harus didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap struktur sosial dan kepemimpinan lokal, mulai dari tingkat marga hingga suku.














