banner 728x250
Papua  

Masyarakat Adat Harus Jadi Aktor Utama, Bukan Sekadar Penerima Manfaat — PAPEDA Summit 2026

SORONG – Hari kedua perhelatan PAPEDA Summit 2026 (Papua Action for Development, Economy, and Sustainable Nature) di Hotel Vega Prime, Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026), menegaskan bahwa kepemimpinan masyarakat adat merupakan fondasi mutlak bagi pembangunan Tanah Papua yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Melalui Plenary Session 3 bertajuk “Kepemimpinan Masyarakat Adat”, para pembicara sepakat bahwa pembangunan di Papua tidak bisa dilepaskan dari masyarakat adat selaku pemilik wilayah, penjaga sumber daya alam, sekaligus aktor utama penggerak kehidupan sosial hingga politik.

Diskusi ini menghadirkan Anggota DPR Papua Tengah Stella T.U. Misiro, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Papua Pegunungan Elai Giban, Tokoh Perempuan Adat sekaligus Kepala Distrik Merdey Yustina Ogoney, serta Wakil Rektor IV Universitas Papua (UNIPA) Yusuf Sawaki.

Baca Juga :  Dari Rp1,7 T ke Rp700 M, Apolo Safanpo Buka Fakta Tekanan Anggaran Papua Selatan

Dalam pemaparannya, Stella T.U. Misiro dan Yustina Ogoney menyoroti urgensi keterwakilan perempuan adat dan generasi muda. Stella menegaskan komitmennya dalam menghadirkan kebijakan responsif, seperti Perda Provinsi Nomor 2 Tahun 2026 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak di Papua Tengah. Senada dengan itu, Yustina menekankan bahwa perempuan adat memiliki ikatan langsung dengan wilayah ulayat dan roda ekonomi komunitas, salah satunya lewat inisiatif pembangunan pondok-pondok usaha pinang warga.

Di sektor lingkungan dan ekonomi, Elai Giban memaparkan tantangan perlindungan kawasan hutan dari dampak El Niño serta pentingnya kerja sama antardaerah untuk memperkuat ketahanan pangan komoditas lokal.

Baca Juga :  Ananda Freyspa Kresnadi, Perenang Muda Merauke yang Tak Kenal Lelah, Raih Enam Medali di Makassar

Sementara itu, dari perspektif akademik, Yusuf Sawaki mengingatkan pemerintah dan pihak swasta bahwa pengakuan terhadap masyarakat adat tidak cukup hanya melalui pendekatan administratif. Pembangunan harus didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap struktur sosial dan kepemimpinan lokal, mulai dari tingkat marga hingga suku.

Secara keseluruhan, forum PAPEDA Summit 2026 hari kedua ini menyimpulkan satu pesan kuat: masyarakat adat tidak boleh lagi sekadar ditempatkan sebagai penerima manfaat. Masa depan pembangunan Tanah Papua harus dirancang dan dibangun bersama masyarakat adat, bukan hanya sekadar untuk masyarakat adat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *