banner 728x250

Pulau Obi

Aka Abdullah (Bagian 1)

banner 120x600

Selasa pagi, 19 Mei 2026.
Langit Bacan menggantung redup sejak subuh. Matahari yang biasanya muncul garang dari ufuk timur, pagi itu memilih bersembunyi di balik hamparan awan putih yang bergerak perlahan seperti kapas raksasa. Udara terasa lembap, namun menenangkan. Di Pelabuhan Kupal, kehidupan sudah berdenyut sejak pagi buta.

Pelabuhan itu ramai oleh suara manusia dan bunyi mesin. Orang-orang datang dan pergi membawa harapan masing-masing. Pedagang kecil menawarkan kopi dan makanan hangat, sementara karyawan perusahaan tambang tampak tergesa mengejar jadwal keberangkatan. Jalur penyeberangan menuju Pulau Obi memang tak pernah benar-benar sepi. Dari tempat inilah denyut ekonomi bergerak menuju salah satu pulau yang dalam satu dekade terakhir menjadi perhatian banyak orang di Indonesia.

Saya bersama teman-teman dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara berdiri di antara keramaian itu. Di samping saya, Ibu Kepala Cabang Dinas Halmahera Selatan sesekali mengingatkan anggota tim agar tidak tertinggal. Tas kami tampak sederhana dibanding lalu-lalang para pekerja tambang dengan perlengkapan lengkap mereka. Namun tujuan kami pagi itu sama: menuju Pulau Obi.

Sebuah speedboat putih-biru telah menunggu di ujung dermaga. Badannya memanjang ramping, tampak kokoh diterpa ombak. Mesin di buritan meraung pendek, seolah memberi tanda bahwa perjalanan panjang akan segera dimulai.

Baca Juga :  BPBD Halmahera Timur Informasi Gempa Bumi

Perjalanan menuju Obi diperkirakan memakan waktu sekitar dua jam. Laut tampak tenang, meski awan mendung masih menggantung rendah di langit selatan.

Entah mengapa, sejak menginjakkan kaki di pelabuhan pagi itu, hati saya dipenuhi rasa yang sulit dijelaskan. Ada bahagia. Ada penasaran. Ada juga rasa kagum yang sejak lama tersimpan tentang Pulau Obi.

Nama Obi bukan nama asing bagi saya. Sejak kecil saya sudah sering mendengarnya. Dulu, ketika Maluku Utara masih menjadi bagian dari Provinsi Maluku, Obi dikenal sebagai salah satu kecamatan tertua dan terjauh. Pulau yang terasa begitu jauh dari pusat kekuasaan, tetapi menyimpan kekayaan alam luar biasa. Dan pagi itu, untuk pertama kalinya saya benar-benar menuju ke sana.

Kini semuanya berubah.

Dalam satu dasawarsa terakhir, nama Obi mendadak melambung ke tingkat nasional. Kehadiran Harita Group menjadikan pulau ini pusat perhatian. Dari perut bumi Obi, nikel dan berbagai potensi tambang lainnya diolah menjadi denyut ekonomi baru. Ribuan orang datang membawa mimpi, pekerjaan, dan harapan hidup yang lebih baik.

Pukul 07.45 WIT, tali tambat mulai dilepas.

Baca Juga :  Hadiri Peresmian Gedung Gereja Hatetabako, Bupati Haltim Tandatangani Prasasti Bersama Ketua Sinode

Speedboat perlahan menjauh dari dermaga. Ombak kecil memecah di sisi lambung perahu. Saya menoleh ke belakang. Satu per satu wajah teman-teman tampak diam dan tertunduk. Tak ada percakapan berarti. Mungkin masing-masing sedang berdoa dalam hati agar perjalanan kami diberi keselamatan.

Saya duduk bersebelahan dengan Kepala SMK Muhammadiyah Bacan, Ustaz Samsudin. Sosok sederhana yang sejak awal perjalanan tampak tenang dan bersahaja. Saya mengenalnya cukup lama. Pembawaannya rendah hati, tetapi pikirannya penuh pengalaman.

“Perjalanan hari ini insyaallah bagus,” katanya pelan sambil tersenyum.

Entah mengapa, ucapan sederhana itu seperti suntikan energi. Di usia beliau yang tak lagi muda, ada keteduhan yang membuat orang lain merasa aman.

Tak lama kemudian, speedboat mulai melaju penuh. Cepat. Sangat cepat.

Laju perahu itu seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Angin menerpa wajah keras-keras. Mesin meraung memecah sunyi laut pagi. Ombak berkejaran di sisi kanan dan kiri.

Beruntung cuaca sangat bersahabat. Laut seolah sedang membuka jalan bagi kami.

Sesekali percikan air asin menerobos masuk dari sela jendela speedboat, membasahi wajah.

Di tengah deru mesin, tiba-tiba Ustaz Samsudin menunjuk ke arah kejauhan.

“Itu Desa Kubung,” bisiknya.

Baca Juga :  Resmi Dilantik BPC HIPMI Halmahera Timur Periode 2025-2028

Saya mengikuti arah telunjuknya. Di kejauhan tampak garis daratan memanjang di sisi selatan Pulau Bacan.

“Di sana sekarang banyak tambang,” lanjutnya.

Saya mengangguk pelan.

Speedboat terus membelah laut dengan kecepatan tinggi. Bunyi mesinnya makin keras, hampir seperti Whoosh yang pernah saya naiki antara Jakarta dan Bandung. Kami akhirnya lebih banyak diam. Tak ada lagi percakapan panjang.

Semua mata sibuk memandang lautan luas yang terbentang tanpa batas.

Di hadapan hamparan laut pagi itu, saya tiba-tiba merasa kecil. Sangat kecil.

Dan di tengah suara ombak yang pecah perlahan, saya seperti diingatkan kembali bahwa manusia sesungguhnya hanyalah musafir yang sedang menyeberangi kehidupan.

Salam buat basudara samua di Obi.

Bersambung…
Stasiun 1 di Madopolo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *